Independennews.com | Batam – Ketua DPC Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kota Batam, Gusmanedy Sibagariang, menyampaikan keprihatinan mendalam atas dugaan ucapan oknum dokter yang menyebut pasien BPJS sebagai “pasien gratisan”. Ia menilai ucapan tersebut bukan hanya keliru, tetapi melukai perasaan manusia yang datang ke rumah sakit dengan harapan terakhir untuk sembuh.
Menurutnya, rumah sakit adalah tempat di mana rasa takut, cemas, dan harap bercampur menjadi satu. Tidak ada orang yang datang ke ruang periksa dengan hati tenang — semua datang membawa kekhawatiran, membawa doa, bahkan membawa air mata.
“Orang datang ke rumah sakit bukan untuk dihina. Mereka datang dengan rasa sakit, dengan harapan, kadang dengan uang terakhir yang mereka miliki. Ketika mereka disebut ‘gratisan’, yang terluka bukan hanya telinga, tapi harga diri,” ujar Gusmanedy, dikantor DPC PJS Kota Batam, Sabtu (15/2/2026)
Ia menegaskan peserta BPJS bukanlah pasien tanpa nilai. Mereka adalah pekerja, orang tua, dan anak-anak yang setiap bulan menyisihkan penghasilan agar saat sakit tidak menjadi beban keluarga.
“BPJS itu bukan belas kasihan. Itu hasil keringat. Ada tukang ojek yang bayar iuran dari panas hujan, ada buruh yang memotong gajinya, ada orang tua yang menahan kebutuhan lain demi tetap aktif. Ketika mereka berobat, mereka membawa martabat, bukan meminta sedekah.”
Gusmanedy mengaku semakin terpukul karena yang mengalami perlakuan tersebut adalah keluarga jurnalis. Namun ia menegaskan, luka itu tidak hanya milik profesi tertentu.
“Hari ini mungkin keluarga jurnalis, kemarin mungkin keluarga nelayan, besok bisa siapa saja. Sakit itu sama rasanya bagi semua orang. Rumah sakit seharusnya menjadi tempat paling aman bagi perasaan manusia.”
Ia berharap pihak rumah sakit tidak hanya memberikan klarifikasi administratif, tetapi melakukan refleksi kemanusiaan.
“Obat bisa menyembuhkan tubuh, tapi kata-kata bisa melukai jiwa. Dan luka batin sering lebih lama sembuhnya. Kami tidak mencari siapa yang salah — kami hanya ingin tidak ada lagi pasien yang pulang membawa air mata karena merasa direndahkan.”
Menurutnya, pelayanan kesehatan pada akhirnya bukan sekadar tindakan medis, tetapi tentang empati.
“Kesembuhan tidak selalu dimulai dari resep dokter, kadang dimulai dari satu kalimat: ‘Kami akan membantu Anda.’”(PJS)