SILABUSKEPRI.CO.ID | BATAM – Komitmen memperluas akses literasi terus ditunjukkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Batam melalui kegiatan monitoring dan evaluasi program Kerja Sama Silang Layan Koleksi yang telah rampung dilaksanakan selama satu pekan, mulai 6 hingga 13 April 2026.
Kegiatan ini menyasar tiga titik strategis yang merepresentasikan kelompok masyarakat dengan kebutuhan akses informasi khusus, yakni Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Batam, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, serta UPTD P2PMKS Nilam Suri. Ketiganya menjadi bagian dari upaya Dispusip dalam menghadirkan layanan literasi yang inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.
Khusus di RSUD Embung Fatimah, monitoring dilakukan langsung oleh Kepala Bidang Pengolahan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan, Henny Thesnawati, S.S. Kehadiran pimpinan di lapangan menjadi penegasan bahwa Dispusip tidak hanya menjalankan program secara administratif, tetapi juga memastikan kualitas layanan benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, tim monitoring menitikberatkan pada tiga aspek utama. Pertama, evaluasi relevansi koleksi, guna memastikan buku-buku yang disalurkan sesuai dengan kebutuhan pembaca di masing-masing lokasi—baik itu pasien rumah sakit, warga binaan, maupun penghuni unit pelaksana teknis. Kedua, kondisi fisik bahan pustaka, agar koleksi tetap layak baca dan terjaga kelestariannya. Ketiga, peningkatan minat baca melalui optimalisasi pojok baca sebagai ruang edukasi sekaligus rekreasi intelektual.
Secara konseptual, program silang layan ini merupakan implementasi nyata dari prinsip klasik dalam dunia perpustakaan yang dikemukakan oleh S.R. Ranganathan, yakni “Every book its reader”—bahwa setiap buku memiliki pembacanya. Dalam konteks perpustakaan modern, pendekatan ini menegaskan bahwa perpustakaan tidak lagi bersifat eksklusif, melainkan harus terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Melalui program ini, Dispusip Kota Batam juga menjalankan pendekatan biblioterapi, yakni pemanfaatan literatur sebagai sarana pendukung pemulihan psikologis dan penguatan mental. Di lingkungan rumah sakit, buku dapat menjadi teman sunyi bagi pasien; di LPKA, literasi menjadi jendela harapan bagi anak binaan; sementara di UPTD sosial, bacaan menjadi alat pemberdayaan.
“Kami ingin memastikan bahwa keterbatasan fisik atau lokasi tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Batam untuk mendapatkan informasi. Monitoring ini adalah cara kami menjaga kualitas layanan tetap prima di tangan mitra kami,” ujar Henny Thesnawati di sela-sela pemantauan di RSUD Embung Fatimah.
Sebagai bentuk apresiasi atas sinergi yang terjalin, LPKA Kelas II Batam juga menyerahkan piagam penghargaan kepada Dispusip Kota Batam. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa kolaborasi lintas sektor dalam membangun budaya literasi telah memberikan dampak nyata.
Dengan selesainya rangkaian monitoring ini, Dispusip Kota Batam berharap kemitraan yang telah terbangun dapat terus diperkuat. Lebih dari sekadar distribusi buku, program ini menjadi gerakan bersama untuk menumbuhkan budaya membaca yang merata—menjangkau ruang-ruang yang selama ini kerap terpinggirkan dari akses literasi.
Di tengah dinamika kota yang terus berkembang, langkah ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui literasi yang inklusif dan berkelanjutan. (*)