Tajuk Redaksi
Setiap kali dolar Amerika Serikat menguat dan rupiah melemah, yang pertama kali dirasakan rakyat adalah kenaikan harga.
Harga pangan naik, harga bahan baku naik, biaya produksi naik, tarif angkutan naik, ujungnya, daya beli rakyat tertekan.
Dalam situasi seperti itu, publik sering mendengar berbagai penjelasan teknis: gejolak global, perang dagang, kebijakan The Fed, ketidakpastian ekonomi dunia, hingga arus modal asing yang keluar masuk.
Semua itu memang benar. Namun ada satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab secara jujur:
Mengapa rupiah selalu rentan ketika dolar bergerak?
Jawabannya sederhana.
Karena Indonesia masih terlalu bergantung pada dolar. Kita masih membutuhkan dolar untuk impor bahan baku. Kita masih membutuhkan dolar untuk membeli mesin. Kita masih membutuhkan dolar untuk membayar utang luar negeri.
Kita masih membutuhkan dolar untuk berbagai transaksi perdagangan internasional. Akibatnya, ketika permintaan dolar meningkat, rupiah tertekan.
Masalahnya bukan semata-mata kurs. Masalahnya adalah struktur ekonomi.
Selama Indonesia lebih banyak membeli daripada menjual, selama Indonesia lebih banyak mengimpor daripada memproduksi, selama Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah daripada barang jadi, maka tekanan terhadap rupiah akan terus berulang.
Karena itu, memperkuat rupiah tidak cukup dengan intervensi pasar. Tidak cukup dengan menjual cadangan devisa. Tidak cukup dengan menaikkan suku bunga. Tidak cukup dengan imbauan agar masyarakat mencintai rupiah.
Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar. Indonesia harus memperkuat industri nasional. Indonesia harus memperbesar ekspor bernilai tambah. Indonesia harus mengurangi ketergantungan terhadap impor. Indonesia harus mempercepat hilirisasi sumber daya alam.
Indonesia harus memastikan investasi yang masuk benar-benar membangun pabrik, menciptakan lapangan kerja, dan menghasilkan devisa. Bukan sekadar investasi di atas kertas.
Tidak masuk akal jika negara yang kaya nikel, bauksit, timah, kelapa sawit, perikanan, dan energi masih bergantung pada ekspor bahan mentah.
Tidak masuk akal jika kekayaan alam dikirim keluar negeri dalam bentuk mentah, lalu kembali lagi dalam bentuk barang jadi dengan harga berlipat ganda.
Nilai tambah itu seharusnya tinggal di Indonesia. Lapangan kerja itu seharusnya tercipta di Indonesia. Devisa itu seharusnya masuk ke Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah juga harus memastikan bahwa hasil ekspor tidak mengalir keluar begitu saja. Devisa hasil ekspor harus memperkuat ekonomi nasional.
Harus memperkuat cadangan devisa, harus memperkuat rupiah, bukan sekadar mampir sebentar lalu berpindah ke luar negeri.
Pemerintah juga perlu memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional.
Semakin banyak transaksi yang tidak menggunakan dolar, semakin kecil tekanan terhadap rupiah.
Banyak negara mulai bergerak ke arah itu. Indonesia tidak boleh tertinggal. Namun yang paling penting adalah membangun kepercayaan.
Investor tidak hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi. Investor melihat kepastian hukum. Investor melihat birokrasi. Investor melihat korupsi. Investor melihat stabilitas kebijakan.
Investor melihat apakah aturan berubah setiap saat atau tidak. Ketika kepercayaan meningkat, investasi masuk.
Ketika investasi masuk, devisa bertambah, ketika devisa bertambah, rupiah menguat. Hubungannya sederhana. Karena itu, memperkuat rupiah sesungguhnya bukan hanya tugas Bank Indonesia.
Ini tugas seluruh pemerintah, tugas kementerian, tugas dunia usaha, tugas industri, tugas seluruh pemangku kepentingan yang ingin melihat Indonesia lebih kuat dan lebih mandiri.
Rupiah yang kuat bukan sekadar soal angka di layar monitor bank. Rupiah yang kuat berarti harga lebih stabil. Rupiah yang kuat berarti biaya produksi lebih terkendali. Rupiah yang kuat berarti investasi lebih percaya diri. Rupiah yang kuat berarti daya beli rakyat lebih terjaga.
Dan pada akhirnya, rupiah yang kuat adalah cermin dari ekonomi yang kuat. Karena itu, jika pemerintah benar-benar ingin memperkuat rupiah, fokusnya jangan hanya pada pasar valuta asing.
Fokuslah pada pabrik. Fokuslah pada ekspor. Fokuslah pada hilirisasi. Fokuslah pada investasi produktif. Fokuslah pada lapangan kerja. Fokuslah pada produksi nasional.
Sebab sejarah ekonomi dunia menunjukkan satu pelajaran penting:
Tidak ada mata uang yang kuat tanpa ekonomi yang produktif.
Dan tidak ada ekonomi yang produktif jika sebuah bangsa lebih senang membeli daripada membuat.
Rakyat tidak membutuhkan rupiah yang kuat hanya di atas kertas. Rakyat membutuhkan rupiah yang kuat di pasar, di warung, di sawah, di pelabuhan, di pabrik, dan di dapur rumah tangga.
Karena itu, memperkuat rupiah bukan sekadar menjaga kurs. Memperkuat rupiah adalah membangun kemandirian ekonomi bangsa.
Dan kemandirian ekonomi tidak lahir dari pidato. Kemandirian ekonomi lahir dari produksi, kerja keras, investasi, dan keberanian membangun industri nasional yang benar-benar kuat.
[Red]