Dituding Proyek Siluman, Warga Pulau Kasu Ajak Jurnalis Lihat Fakta

Silabuskepri.co.id | Batam – Di tengah derasnya tudingan tentang adanya “proyek siluman” di Pulau Kasu, masyarakat memilih menjawabnya dengan cara sederhana: mengajak jurnalis melihat langsung. Saat tim DPD PJS Kepri tiba di pulau tersebut, tokoh masyarakat, pemuda, Ketua RT, hingga pengurus Forum RT/RW menyambut hangat dan membuka ruang seluas-luasnya agar fakta dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

“Daripada hanya mendengar cerita orang, lebih baik lihat langsung,” ujar salah seorang warga, kepada tim jurnalis, Rabu (17/6/2026)

Tanpa banyak basa-basi, warga kemudian mengajak tim menyusuri jalan-jalan di Pulau Kasu. Tujuan pertama adalah pembangunan jalan lingkar desa yang disebut-sebut dalam berbagai isu.

Di lokasi, tim mendapati sebagian ruas jalan telah selesai dibangun, sementara sebagian lainnya masih dalam tahap pematangan lahan. Jalan yang direncanakan mengelilingi kawasan permukiman itu memiliki panjang sekitar 2,5 kilometer dan dikerjakan secara bertahap melalui Tahun Anggaran 2025 dan 2026.

Ketua RT 01 Pulau Kasu, Suhardi, menjelaskan bahwa akses tersebut merupakan kebutuhan mendesak masyarakat.

“Jalan ini sering dipakai anak-anak sekolah karena lebih dekat. Kalau lewat sini, jaraknya bisa dipangkas. Kami berharap pembangunannya segera dilanjutkan sampai selesai,” katanya.

Suhardi kemudian menunjukkan kondisi jalan tanah merah yang licin ketika hujan turun.

“Kalau musim hujan seperti ini, warga sangat kesulitan melintas. Karena itu kami berharap pembangunan segera dituntaskan agar masyarakat memiliki akses yang layak,” ujarnya.

Proyek Batu Miring yang Dipersoalkan Ternyata Ada

Penelusuran kemudian dilanjutkan menuju lokasi proyek batu miring yang sebelumnya ramai disebut sebagai “proyek siluman”.

Narasi yang berkembang menyebut proyek tersebut tidak ditemukan di lapangan. Namun, hasil verifikasi tim menunjukkan fakta berbeda.

Bangunan batu miring tampak berdiri kokoh menghadap ke arah barat. Susunan batu terlihat jelas memanjang mengikuti garis pesisir. Bahkan, di sejumlah titik masih terlihat aktivitas pekerjaan lanjutan yang menunjukkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya rampung.

Material batu masih tersedia di sekitar lokasi sebagai bagian dari kelanjutan pekerjaan.

Temuan lapangan ini sontak memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat: bagaimana sebuah proyek dapat disebut tidak ada, sementara secara fisik bangunannya dapat dilihat dan disentuh langsung?

Ketua Forum RT/RW Pulau Kasu, Dani, mengaku kecewa atas tudingan yang menurutnya muncul tanpa didahului pengecekan lapangan.

“Kalau disebut proyek siluman, kami sebagai masyarakat merasa tersinggung. Bapak-bapak lihat sendiri, proyeknya ada, batunya ada, bangunannya berdiri. Bahkan masih ada pekerjaan yang harus dilanjutkan. Kami heran kenapa bisa muncul tudingan seperti itu tanpa datang melihat langsung,” ujarnya.

Menurut Dani, masyarakat tidak pernah anti terhadap kritik. Namun kritik yang disampaikan kepada publik harus melalui proses verifikasi.

“Silakan mengkritik. Itu hak setiap warga negara. Tapi jangan sampai menyampaikan sesuatu yang belum dipastikan kebenarannya. Datang dulu ke sini, lihat sendiri, baru berbicara. Jangan sampai masyarakat kami yang jadi korban karena informasi yang tidak utuh,” katanya.

Dani menjelaskan bahwa keberadaan batu miring tersebut memiliki fungsi penting bagi warga Pulau Kasu, yakni memperkuat kawasan pesisir sekaligus menunjang pembangunan akses jalan lingkar desa yang selama ini menjadi impian masyarakat.

“Di balik batu miring ini ada jalan lingkar desa yang kami harapkan selesai. Itu impian masyarakat Pulau Kasu sejak lama,” tuturnya.

Masjid Nur Iman dan Ponpes Nurul Iman Berdiri Nyata

Tim kemudian bergerak menuju Masjid Nur Iman yang juga sempat dikaitkan dalam isu yang berkembang.

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan bangunan masjid berdiri kokoh dan aktif digunakan masyarakat untuk beribadah. Di area depan masjid, pekerjaan batu miring juga masih berlangsung dengan sejumlah tukang terlihat bekerja.

Tak jauh dari lokasi masjid, berdiri Pondok Pesantren Nurul Iman yang menjadi tempat pendidikan agama bagi anak-anak Pulau Kasu.

Imam Masjid Nur Iman, Azhar, mengaku sedih ketika mendengar adanya narasi yang menyebut bantuan pembangunan di desanya seolah-olah tidak nyata.

“Kami kecewa mendengar pernyataan seperti itu. Orang yang berbicara mungkin belum pernah datang ke sini. Kami di Pulau Kasu sedang berjuang membangun kampung kami dengan segala keterbatasan yang ada,” ujarnya.

Menurut Azhar, kehadiran Pondok Pesantren Nurul Iman membawa harapan baru bagi masyarakat.

“Kami berharap anak-anak di Pulau Kasu bisa mendapatkan pendidikan agama yang baik melalui ponpes ini. Jangan sampai semangat masyarakat membangun desa dipatahkan oleh narasi yang tidak sesuai dengan fakta lapangan,” katanya.

Lurah: Masyarakat Merasakan Manfaatnya

Lurah Kasu, Budi, yang ditemui tim di kawasan dermaga, turut memberikan penjelasan mengenai berbagai pembangunan yang berlangsung di wilayahnya.

Ia menegaskan bahwa infrastruktur yang dibangun memang dibutuhkan masyarakat.

“Kalau ditanya manfaatnya, tentu masyarakat sangat terbantu. Batu miring ini penting untuk memperkuat dan melindungi kawasan pesisir dari abrasi. Jalan lingkar desa menjadi akses yang dibutuhkan warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Budi, kondisi geografis Pulau Kasu sebagai wilayah kepulauan membuat infrastruktur memiliki arti strategis.

“Jalan bukan hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga mendukung pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat. Kami berharap pembangunannya dapat dilanjutkan hingga selesai,” katanya.

Ia juga mengapresiasi keberadaan Masjid Nur Iman dan Pondok Pesantren Nurul Iman.

“Kami sangat terbantu dengan hadirnya Pondok Pesantren Nurul Iman untuk mendidik generasi muda dalam pengajaran iman dan takwa. Ini menjadi investasi jangka panjang bagi masyarakat Pulau Kasu,” ungkapnya.

Budi berharap polemik yang berkembang tidak mengaburkan manfaat pembangunan yang telah dirasakan masyarakat.

“Kalau ada kritik tentu baik sebagai bentuk pengawasan. Tapi alangkah lebih bijak jika melihat langsung kondisi di lapangan dan mendengar suara masyarakat yang merasakan manfaatnya,” pungkasnya.

Kritik Boleh, Verifikasi Tetap Harus Didahulukan

Sementara itu, Ketua DPD PJS Kepri, Gusmanedy Sibagariang, menegaskan bahwa kehadiran tim ke Pulau Kasu bukan untuk membela pihak tertentu maupun menghakimi pihak lain.

“Kami datang bukan untuk mencari siapa yang salah atau siapa yang benar. Kami datang untuk memastikan fakta di lapangan. Apa yang kami lihat, itulah yang kami tuliskan. Apa yang disampaikan masyarakat, itulah yang kami dengarkan. Prinsip jurnalisme adalah verifikasi,” ujarnya.

Menurut Gusmanedy, kritik merupakan bagian dari kontrol sosial yang dijamin dalam negara demokrasi. Namun kritik yang baik harus didasarkan pada data, dokumen, serta pengecekan lapangan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Perjalanan ke Pulau Kasu akhirnya menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi dan mudahnya sebuah narasi menyebar, kebenaran tidak lahir dari asumsi ataupun kesimpulan sepihak.

Ia harus diuji melalui fakta, diverifikasi di lapangan, didengar dari suara masyarakat yang mengalaminya secara langsung, lalu disampaikan secara utuh kepada publik.

Sebab dalam jurnalisme, kebenaran tidak dibangun dari prasangka. Kebenaran lahir dari proses verifikasi.

Catatan Redaksi: Pemberitaan ini merupakan hasil penelusuran lapangan DPD PJS Kepri pada Rabu (17/6/2026). Pihak-pihak yang sebelumnya menyampaikan kritik atau tudingan terkait pembangunan di Pulau Kasu tetap memiliki hak jawab sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

[RED]

fin4d» Situs Toto Online Terpercaya No 1 Di Indonesia 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

You might also like