Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi perbincangan publik. Ada yang memuji karena dianggap mampu menjawab persoalan gizi anak dan meringankan beban keluarga. Ada pula yang mengkritik pelaksanaannya, mempertanyakan efektivitasnya, bahkan menuding adanya unsur eksploitasi ketika pelajar ikut menyuarakan dukungan terhadap program tersebut.
Dalam negara demokrasi, kritik adalah sesuatu yang wajar. Bahkan diperlukan. Setiap kebijakan publik harus diawasi agar tepat sasaran, transparan, dan bebas dari penyimpangan. Namun, di tengah riuhnya perdebatan orang dewasa, ada satu kelompok yang justru sering terlupakan: anak-anak yang menjadi penerima manfaat program itu sendiri.
Mereka yang setiap pagi datang ke sekolah dengan perut kosong.
Mereka yang orang tuanya harus menghitung dengan cermat setiap rupiah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Mereka yang mungkin baru merasakan menu bergizi secara rutin melalui program yang disediakan negara.
Sayangnya, ketika sebagian anak menyampaikan dukungan terhadap MBG, suara mereka justru dipersoalkan. Kehadiran mereka dalam pawai dukungan dinilai sebagai bentuk eksploitasi. Tuduhan itu bergulir cepat di ruang publik, seolah telah menjadi sebuah kebenaran yang tidak lagi memerlukan pembuktian.
Padahal, hingga kini publik belum diperlihatkan bukti adanya pemaksaan terhadap siswa, ancaman kepada orang tua, ataupun tekanan kepada sekolah untuk mengikutsertakan anak-anak dalam kegiatan tersebut. Yang berkembang lebih banyak berupa asumsi dan penilaian sepihak.
Tentu, perlindungan anak harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Tidak boleh ada anak yang dijadikan alat kepentingan politik ataupun propaganda. Jika memang terdapat dugaan pelanggaran, maka harus dibuktikan melalui mekanisme yang benar berdasarkan fakta, saksi, dan ketentuan hukum yang berlaku.
Namun, perlindungan anak juga tidak boleh dimaknai dengan meniadakan suara anak itu sendiri.
Anak-anak bukan sekadar objek yang selalu dianggap tidak tahu apa-apa. Mereka juga memiliki pengalaman, perasaan, serta kemampuan untuk merasakan dampak dari sebuah kebijakan yang hadir dalam kehidupan mereka.
Bukankah selama ini kita mendorong agar anak-anak berani menyampaikan pendapat? Bukankah kita mengajarkan pentingnya partisipasi dan keberanian bersuara?
Lalu mengapa ketika mereka mengatakan bahwa program makan bergizi membantu mereka belajar lebih nyaman, membuat mereka tidak lagi menahan lapar di sekolah, dan sedikit meringankan beban orang tua, suara itu justru dianggap tidak sah?
Di sinilah letak ironi yang patut direnungkan.
Demokrasi tidak hanya memberikan ruang bagi mereka yang menolak suatu kebijakan. Demokrasi juga harus menghormati mereka yang mendukungnya.
Jika kelompok tertentu bebas menyampaikan kritik terhadap MBG, maka masyarakat yang merasakan manfaatnya juga memiliki hak yang sama untuk menyampaikan dukungan. Termasuk anak-anak yang setiap hari menikmati program tersebut.
Perdebatan mengenai kualitas makanan, mekanisme distribusi, pengawasan anggaran, hingga ketepatan sasaran tentu penting untuk terus dilakukan. Pemerintah harus terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan. Tidak ada program yang sempurna tanpa kritik.
Namun jangan sampai perdebatan itu mengaburkan substansi yang jauh lebih penting, yakni hak anak untuk memperoleh gizi yang layak.
Sebab bagi banyak keluarga Indonesia, terutama yang berada dalam keterbatasan ekonomi, seporsi makanan bergizi bukan sekadar urusan perut kenyang. Di dalamnya ada harapan agar anak dapat tumbuh sehat, belajar dengan lebih fokus, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukan hanya terletak pada seberapa keras ia diperdebatkan, melainkan seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Dan jika ada anak-anak yang berkata bahwa mereka merasa terbantu, merasa diperhatikan, dan merasa memiliki semangat baru untuk belajar karena Program Makan Bergizi Gratis, maka suara itu layak didengar.
Jangan buru-buru membungkamnya dengan prasangka.
Jangan tergesa-gesa menghakiminya dengan label.
Karena di balik polemik MBG, ada suara anak-anak Indonesia yang sesungguhnya sedang berbicara tentang hak mereka untuk hidup lebih sehat, tumbuh lebih baik, dan bermimpi lebih tinggi.
Mereka bukan sekadar objek dalam perdebatan orang dewasa.
Mereka adalah alasan mengapa masa depan bangsa harus diperjuangkan sejak hari ini.
[Tajuk Redaksi]