Silabuskepri.co.id | Batam – Pagi itu, Kantor Naipospos 7 Brother milik Sudirman Situmeang, SH and Partner di Mega Legenda 2, Kota Batam tidak lagi sekadar menjadi ruang diskusi hukum.
Di tempat itulah, duka berubah menjadi gelombang persaudaraan.
Sedikitnya 1.200 muda-mudi keturunan besar Naipospos se-Kota Batam yang terdiri dari marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, serta Marbun boru bere ibabere, datang dengan satu perasaan yang sama: mereka tidak rela keluarga almarhum Bripda Natanael Simanungkalit berjuang sendirian.
Kedatangan anak-anak muda Naipospos itu diungkapkan langsung oleh Penasehat Hukum keluarga almarhum, Sudirman Situmeang, SH, kepada media ini melalui sambungan WhatsApp, Rabu pagi (6/5/2026).
Menurut Sudirman, suasana kantor saat itu jauh dari kesan pertemuan formal. Yang hadir bukan sekadar orang-orang yang ingin mengetahui perkembangan perkara.
Yang datang adalah saudara-saudara satu darah persaudaraan yang membawa dada sesak, mata yang menahan basah, dan satu pertanyaan yang masih menggantung: mengapa Natanael harus pergi dalam ketidakjelasan.
“Begitu mereka datang, saya bisa merasakan bahwa ini bukan sekadar solidaritas biasa. Ini seperti keluarga besar yang sedang memikul satu luka bersama,” ungkap Sudirman.
Di ruangan yang dipenuhi tumpukan berkas hukum itu, satu per satu muda-mudi Naipospos menyampaikan kegelisahan mereka.
Bagi mereka, Natanael bukan sekadar nama dalam pemberitaan, Ia adalah dongan tubu, Ia adalah anak marga.
Ia adalah bagian dari pohon keturunan yang sama.
Kabar meninggalnya Bripda Natanael Simanungkalit telah mengetuk nurani mereka sebagai sesama anak rantau Batak di Kota Batam.
Mereka merasa, ketika satu anak marga pergi dengan menyisakan banyak pertanyaan, maka yang lain tidak boleh tinggal diam.
Tangis persaudaraan pun pecah ketika beberapa perwakilan menyampaikan langsung kepada Sudirman bahwa mereka tidak sanggup hanya menjadi penonton.
Mereka mendesak agar dilibatkan secara aktif. Bukan sekadar hadir memberi dukungan moral, tetapi ikut menjadi bagian dari tim pencari fakta, ikut mengawal setiap perkembangan hukum, ikut berdiri di belakang keluarga, dan ikut menjaga agar kasus ini tidak tenggelam oleh waktu.
“Bang, jangan biarkan keluarga Natanael berjuang sendiri. Kami ini saudaranya. Kami ini dongan tubunya. Kalau perlu kami ikut turun. Kami tidak mau nama Natanael hilang dalam gelap,” tutur Sudirman menirukan suara bergetar para muda-mudi tersebut.
Kalimat itu membuat suasana berubah hening. Tidak sedikit yang menunduk. Beberapa menahan napas panjang.
Sebab yang berbicara pagi itu bukan lagi sekadar emosi, melainkan darah persaudaraan Batak yang sedang terpanggil oleh duka.
Mereka sadar, di balik kasus yang kini ditangani aparat, ada seorang ibu yang belum berhenti menangis, ada seorang ayah yang masih menunggu jawaban, dan ada keluarga yang setiap hari hidup bersama luka yang belum menemukan penjelasan.
Bagi 1.200 muda-mudi Naipospos tersebut, ini bukan lagi sekadar luka satu rumah. ini luka keluarga besar, ini luka parsadaan.
Melihat gelombang emosi dan desakan itu, Sudirman Situmeang, SH kemudian meminta seluruh keluarga besar tetap menahan diri.
Ia memahami bahwa apa yang datang pagi itu adalah bentuk cinta, kepedulian, dan kemarahan yang lahir dari rasa kehilangan.
Namun Sudirman menegaskan, perjuangan mencari keadilan harus tetap berjalan di atas rel hukum, bukan di atas ledakan emosi.
“Saya memahami gejolak hati adik-adik semua. Ini bentuk cinta dan kepedulian yang luar biasa kepada almarhum. Tetapi saya mohon kita tetap tenang, tetap sabar, dan jangan terpancing melakukan tindakan di luar koridor hukum. Serahkan sepenuhnya proses ini kepada kami selaku kuasa hukum untuk terus mengawal jalannya penyidikan,” ujar Sudirman.
Ia menjelaskan bahwa sampai saat ini penanganan perkara meninggalnya almarhum Bripda Natanael Simanungkalit masih berada dalam tahap penyidikan dan ruang hukum dinilai masih cukup terbuka.
Pihak kuasa hukum, kata dia, terus melakukan pendalaman fakta, penguatan alat bukti, serta komunikasi intensif agar proses ini berjalan tuntas dan tidak berhenti setengah jalan.
Karena itu, Sudirman meminta agar tidak ada tindakan anarkis ataupun gerakan spontan yang justru berpotensi merugikan perjuangan keluarga.
“Jangan ada yang anarkis. Jangan ada langkah yang justru merusak perjuangan kita sendiri. Percayakan kepada kami. Semua sedang kami kawal, semua sedang kami susun. Dukungan adik-adik semua sangat berarti, tapi mari kita jadikan itu sebagai kekuatan moral, bukan kekuatan yang lepas kendali,” tegasnya.
Pernyataan itu membuat ruangan perlahan tenang, namun yang tersisa bukan padamnya semangat, yang tersisa justru sebuah ikrar tak terucap: bahwa keluarga almarhum Bripda Natanael Simanungkalit tidak lagi berjalan sendiri.
Di belakang mereka kini berdiri 1.200 muda-mudi Naipospos Batam dengan hati yang sama, doa yang sama, dan harapan yang sama—agar kebenaran benar-benar dibuka dan keadilan tidak berhenti di tengah jalan.
Dari kantor kecil Naipospos 7 Brother pagi itu, persaudaraan Batak seperti menemukan suaranya sendiri:
jika satu anak marga menangis dalam gelap, maka yang lain akan datang membawa terang.
Dan ketika terang itu telah dinyalakan oleh ribuan hati, perjuangan ini diyakini tidak akan mudah dibiarkan sunyi.
[Red]