Foto : Minyak Goreng disalah satu Warung di Bilangan Batuaji Batam

SilabusKepri.co.id, Batam | Menjelang hari besar keagamaan Natal dan Tahun Baru, Masyarakat dihadapkan dengan melambungnya harga minyak makan. Kenaikan harga minyak itu naik hingga 2 kali lipat dari harga sebelumnya, hal itu dirasakan masyarakat sangat memberatkan ekonomi terlebih masih dalam kondisi panedmi Covid 19.

Dilansir IndependenNews.com, salah seorang warga (N) penjual sarapan pagi, sedang berjualan di Kompleks Ruko Rabayu, Kelurahan Tembesi Kecamatan Sagulung, Selasa (23/11/2021) mengatakan, kenaikan harga minyak makan seperti saat sekarang ini sangat memberatkan ekonomi, apalagi dalam kondisi pandemi sekarang.

“Pada bulan lalu, minyak makan dengan kemasan 2 liter merk Fortune seharga Rp.17.500,- saja, tapi sekarang naik hampir dua kali. Sebelum harga minyak melonjak naik, dirinya selalu membeli minyak per dus untuk disimpan sebagai stok di rumah, yang nantinya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan jualannya.

Sambung kata N, bulan lalu harga minyak per dus nya biasanya sekitar Rp102.000,- hingga Rp120.000, – saja. Namun, sekarang meningkat menjadi Rp200.000an lebih. Oleh karena itu, dirinya mengaku tidak sanggup membayar jika harus membeli per dus.

“Dulu saya beli minyak makan itu per dus biar ada stok di rumah, tapi sekarang sudah tak sanggup lagi, karena duitnya tidak cukup. Sekarang saya belinya yang kemasan 2 liter, meski untungnya sangat sedikit ya mau gimana lagi,” ucap N.

Peningkatan harga minyak ini tentu sangat memberatkan dirinya sebagai pelaku usaha kecil dengan berjualan sarapan pagi. Namun, dengan untung yang sangat kecil, dirinya tetap semangat bertahan hidup.

“Saya tidak tau kenapa harga minyak ini begitu mahal. Padahal jika saya menaikkan harga dagangan saya Rp1.000,- saja takutnya pelanggan saya lari. Mau tidak mau saya harus tetap berjualan meski dengan untung yang sangat kecil,” tuturnya.

Atas situasi tersebut, Dia sangat mengharapkan kehadiran Pemerintah Kota Batam dalam mengatasi permasalahan kenaikan harga ini. Bukan hanya minyak, tapi juga bahan sembako yang lainnya.

“Harapannya kepada pemerintah, kalau bisa harganya sewajarnya saja, ini semua sudah serba susah, ditambah lagi harga minyak yang naik. Apalagi seperti saya pedagang kecil, balik modal untuk sedikit aja sudah sangat bersyukur,”tutupnya

Saat dkonfirmasi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan kota Batam, Gustian Riau, mengatakan penyebab kenaikan harga minyak goreng ini yakni terjadinya kenaikan harga minyak sawit mentah dunia atau yang dikenal dengan istilah Crude Palm Oil (CPO).

Dilansir dari Sindonews, sepanjang tahun 2021, harga rata-rata CPO di atas USD1.000 per metrik ton, bahkan mencapai puncak tertinggi yaitu USD1.390 per metrik ton pada Oktober lalu.

Meski Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar di dunia, namun harga ditentukan oleh mekanisme pasar dunia. Apabila terjadi kenaikan harga CPO internasional, maka harga dalam negeri juga akan ikut naik.

Namun, Gustian Riau tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah kenaikan harga CPO yang menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak goreng itu, menurutnya kenaikan itu tidak hanya dirasakan oleh warga Batam, tapi juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

“Kenaikan harga minyak itu disebabkan karena CPO naik. Itu kaitannya ke Pusat, kalau di daerah itu, kita menunggu kebijakan Nasional melalui Kemendagri, tidak bisa kita tetapkan di daerah,” ucap Gustian Riau

Oleh karena itu, dirinya belum dapat memprediksi sampai kapan harga minyak goreng ini akan tetap naik. Yang jelas pihaknya sedang menunggu keluarya kebijakan pusat sehingga nantinya dapat diterapkan di daerah.(Red)

LEAVE A REPLY

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.